InspirasiInternasional

Keabadian siksa neraka ala Muhammad Ali

Memahami keabadian ala Muhammad Ali

Assalaamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Segala puji bagi Allah Rabb yang dengan Rahmat-Nya kita dijadikan orang yang beriman. Keselamatan dan kesejahteraan semoga selalu tercurah bagi Nabi Muhammad yang DIa utus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan Rahmat bagi semesta alam , beserta keluarga dan sahabat beliau yang mulia.


The Legendary Muhammad Ali

Tanggal 3 Juni 2016 merupakan hari duka bagi para penggemarnya, dari kalangan muslim mau pun non muslim yang mencintainya sebagai seorang tokoh muslim yang sangat cerdas dalam menyampaikan pemikirannya tentang kehidupan dan nilai islam di depan publik barat atau sebagai seorang petinju fenomenal yang pandai dengan gaya bicaranya yang khas dan candanya menghibur. Sang petinju legendaris diwafatkan melalui tangan malaikat pencabut nyawa  oleh  Rabb-nya, yang kemudian pemakamannya dihadiri oleh massa yang diperkirakan berjumlah 14 ribu jiwa.

Cassius Clay (nama asli Ali) yang memutuskan untuk memeluk agama islam sekitar tahun 1964, kemudian dengan lantang ia mengumumkan keislaman dan merubah namanya menjadi Muhammad Ali. Iatelah banyak mengutarakan pemikirannya tentang kehidupan dan islam di depan publik barat. Memanfaatkan popularitas yang telah dianugerahkan Allah padanya, saat ia ditanya tentang apa yang ia lakukan saat pensiun nanti di salah satu acara ‘talk show’ pada waktu itu, Ali menjelaskan tentang hakikat kehidupan menurutnya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin jika nanti -setelah mati- ia dibakar di neraka selamanya.

“To be burned in hell, forever and ever? i don’t want that”


“Hidup itu singkat”

 “Life is short,” kata Ali dengan lantang.

Demikianlah memang seharusnya pandangan seorang muslim. Hidup ini singkat, seperti yang dikatakan Ali saat itu. Kemudian ia menjelaskan bahwa usianya saat itu 35 tahun, 30 tahun sejak saat itu, ia akan berusia 65 tahun. Ali menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan seorang pria 65 tahun? Tidak banyak. Istrimu akan mengatakan itu”.

Meneruskan pernyataannya itu, Ali kemudian berbicara tentang hakikat penciptaan, kematian, ujian kehidupan dan apa yang akan ia lakukan setelah ia pensiun. Dan sampailah ia pada pembahasan tentang keabadian hidup di akhirat. 

Seperti yang kita yakini dan Ali, ia menceritakan tentang dua tempat kembali manusia, yaitu surga dan neraka. Ali mengutarakan ketakutannya akan neraka sebagai ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim semasa hidupnya di dunia. Kemudian sang idola mengilustrasikan keabadian kepada penanya dan kepada semua yang menyaksikan acara itu.


1 Butir pasir per 1000 tahun

Ali mengilustrasikan keabadian bagaikan seorang yang mengambil 1 butir pasir setiap seribu tahun, hingga ia menghabiskan pasir di gurun sahara. Tentu saking lamanya orang itu akan menyerah dan tidak lagi melakukan hal tersebut, hingga tak akan pernah habis pasir-pasir itu. Dan itulah keabadian, yang tak ada ujungnya. Selama-lamanya.

“Pikirkanlah, umur negara Amerika sekarang ini 200 tahun (pada saat itu), anda masih memerlukan 800 tahun lagi untuk mengambil hanya satu butir pasir,” papar Ali.

Selamanya. Itu akan menjadi nikmat yang luar biasa ketika surga lah tempat kembali. Wahai saudaraku, jika neraka tempat kembalinya, sungguh neraka ialah tempat kembali yang seburuk-buruknya.


 Begini….

Izinkan saya menyampaikan beberapa hal tentang hal ini. Kadang kita khawatir berlebihan dengan kehidupan kita di dunia ini yang sementara dan menganggap remeh dosa-dosa. Tak jarang orang yang masih tak peduli melakukan dosa-dosa besar. 

Ketahuilah wahai saudaraku, bukankah kita semua orang yang percaya akan adanya hari pembalasan? Bukankah kita semua meyakini adanya tempat kembali bernama surga dan neraka beserta semua fasilitas mau pun siksa yang telah disediakan oleh Rabb kita? Yang kita tidak akan pernah mati di dalamnya selama-lamanya?

.فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌوَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ

“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksaan-Nya, dan tidak ada yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS 89 Al Fajr : 25-26)

Bukankah ketika Allah berfirman “khalidiina fiiha” (artinya: kekal di dalamnya selama-lamanya) saat menyampaikan surga atau neraka sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk benar-benar serius mencari ilmu agama untuk mengetahui hakikat dunia ini dan penciptaan kita, juga memperbaiki diri supaya sebisa mungkin meninggalkan dosa-dosa baik kecil mau pun besar, baik yang dilakukan secara sembunyi atau terang-terangan?

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Bukankah Rabbmu telah menitipkan dua malaikat yang mencatat dan menyaksikan?


5 menit saja…

Subhanallah, kadang masih kita jumpai, ada beberapa diantara saudara kita muslim yang berkata, “Ndakpapa di neraka dulu, toh akhirnya masuk surga.” Wahai saudaraku, ingatlah saat antum merasa gerah karena cuaca panas, 5 menit saja. Saya yakin sebagian besar kita akan menarik-narik pakaian untuk mengipas bagian dada kita sambil berkata, “Duh, panas, ya!”. Kemudian ia mulai merasa tersiksa karena gerah itu. 5 menit saja. Hanya gerah. Belum dibakar. Belum apinya neraka.

Maka saya memohon kepada Allah agar Allah mudahkan bagi kita petunjuk jalan ke surga-Nya dan keistiqomahan dalam menapaki jalan tersebut.


Demikian sebagian ilmu manfaat yang bisa kita dapat dari almarhum Muhammad Ali. Semoga Allah jalla wa’alaa mengampuni dosa-dosa dan merahmatinya.


Wa Allahu a’lam bishowab

Abdullah Kelik

Demak, 16 Jumada Tsani 1440 H

Ikutlah berdakwah dengan membagikan. InsyaAllah

Comment here