InspirasiNusantara

Hikmah Sakit: Kisah seorang pemuda dan lebah madu

Hikmah rasa sakit, peringatan dalam rasa sakit, takdir sakit, fadhilah tidak mengeluh saat sakit, pengampunan dosa saat sakit,

Assalaamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah mengkaruniai kebaikan dalam setiap apa yang kita alami, baik itu baik menurut kita atau buruk. Shalawat dan salaam semoga selalu tersampaikan pada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya yang mulia,


Dari seorang yang saya kenal

Pada artikel ini ada sebuah kisah nyata yang ingin saya sampaikan. Perlu digaris bawahi bahwa apa yang akan saya sampaikan ialah kisah yang benar-benar terjadi pada seorang pemuda yang saya mengenalnya dengan baik. Bukan merupakan dongeng fiksi.

Cerita ini mungkin terdengar sederhana dan biasa, namun yang terpenting ialah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut. Saya akan coba menceritakan dengan sedikit bahasa dongeng supaya insyaAllah lebih memanjakan imajinasi antum.


Seorang pemuda dan lebah madu

Pada suatu waktu di bulan ramadhan tahun 1339 H lalu, usai menunaikan shalat subuh secara berjamaah di masjid dekat tempatnya tinggal, si pemuda melanjutkan duduk hingga waktu matahari terbit. Saya menyertainya saat itu.

Usai melaksanakan shalat dua rakaat ia segera bergegas pulang. Si pemuda mulai melangkahkan kakinya bergantian satu demi satu meninggalkan tempat shalatnya. 

Beberapa langkah sebelum keluar masjid saya melihatnya tiba-tiba terduduk memutus langkah-langkahnya dengan seperti menahan rasa sakit.

Qodarullah ternyata ada seekor lebah madu yang terinjak olehnya. Sekarat lah sang lebah. Saya mengetahui raut mukanya nampak sedih dan segera ia memindahkan lebah itu ke pojokan dekat salah satu tiang masjid.

Pemuda ini kemudian segera meninggalkan lebah terdiam di pojok tiang dan meninggalkannya. Saya tak mendengar sepatah kata pun darinya, kecuali sedikit kata “aw!” dengan intonasi suara tidak menyentak dan tidak keras saat pertama kali ia menerima sengatan dari lebah itu.


Sebuah kejadian biasa. Ya, seperti sebuah kejadian biasa. Tapi, ketika saya mengetahui apa yang terjadi saat itu dan apa yang dipikirkan oleh seorang pemuda yang saya kenal tersebut, saya tersadar. Dia memikirkan suatu hal mendetail yang kebanyakan dari manusia luput atau bahkan tidak mau tahu.

Berikut akan saya tuliskan pelajaran berharga yang saya ambil dari kejadian itu. Bagi saya ini sangat berharga.


Hikmah dari takdir buruk dan rasa sakit

1. Qodarullah (Takdir Allah)

Dibalik rasa sakit dan kematian lebah yang lemah itu. Itu semua merupakan takdir Allah. Bagaimana bisa, seekor lebah madu yang sehari-hari terbang di udara ke sana ke mari pada saat itu berada di lantai masjid dan tepat di arah di mana si pemuda melangkah. Tiada yang lain merupakan takdir Allah, Pencipta alam semesta.

Lalu apa dibalik takdir itu?

2. Penghapusan dosa dan peringatan

Yaa ayyuhal ikhwah, sebenarnya ada dua hikmah yang utama dibalik sakit yang menimpa orang beriman. Bukankah bagi orang beriman, melalui rasa sakit Allah gugurkan dosa-dosanya?

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit, rasa capek, kekhawatiran, sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Pelajaran lain ialah, tidaklah rasa sakit itu datang melainkan menjadi pengingat kita bahwa kesakitan itu bertingkat-tingkat. Beda rasa sakit yang ia terima dari sengatan lebah madu dan dari lebah yang orang jawa bilang “tawon ndas”. Jika dengan disengat lebah madu sudah cukup menyebabkan ia tersentak seperti demikian, bagaimana dengan kesakitan yang tingkatnya jauh lebih dahsyat dari itu. Bagaimana dengan sakarotul maut? Bagaimana dengan siksaan demi siksaan di neraka? Na’udzubillahi min dzalik.

.فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌوَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ

“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksaan-Nya, dan tidak ada yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS 89 Al Fajr : 25-26)

Dengan berfikir demikian, manusia akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup supaya tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan ia dilemparkan ke dalam api neraka dan terus memohon kepada Allah agar diringankan ia dalam menghadapi sakarotul maut.

Maka dengan rasa sakitnya, yang saya tahu pemuda tadi justru bersyukur kepada Allah yang mengingatkannya tentang rasa sakit.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلٰى أُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنٰهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan menimpakan kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS 6 Al-An’am : 42)


Sebenarnya masih ada beberapa poin, namun akan saya ringkaskan saja supaya bahasan artikel ini tidak terlalu panjang. 

Diantara pelajaran lain ialah, rasa iba kepada lebah yang dengan izin Allah telah mengingatkannya akan pedihnya siksaan neraka justru merasakan penderitaan yang lebih dari ia. Namun tak ada yang dapat dilakukan kecuali merima, karena itu merupakan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah, Pencipta langit dan bumi.

Pelajaran terakhir ialah tidak mengeluh. Karena dengan mengeluh berarti ia menggugat takdir Rabbnya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS 21 Al-Anbiya :23)


Semoga Allah berikan istiqomah pada pemuda tersebut dalam cerita, keberkahan rizqi, kebaikan di dunia dan akhirat serta kita semua.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya [1] adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR Muslim)

Barokallahu fii kum


Abdullah Kelik

Demak, 22 Jumada akhir 1440 H

Ikutlah berdakwah dengan membagikan. InsyaAllah

Comment here